SYI’IR ERANG-ERANG SEKAR PANJANG : SEBUAH KARYA SASTRA JAWA PESISIR KARYA KYAI SIRAJ PAYAMAN MAGELANG
(Suatu Tinjauan Eskatologis)
ABSTRAK
Salah setunggaling karya budaya Jawi ingkang kalebet karya Sastra Jawa
Pesisir inggih punika Sastra Syi’ir. Wonten ing lingkungan pesantren
syi’ir kalebet satunggaling karya sastra pesantren ingkang taksih kathah
ingkang remen maos utawi midhangetaken waosanipun. Bab punika saget
dipun pahami sebab Syi’ir menika suraosipun kathah manfaatipun kagem
sanak kadang santri ingkang remen kaliyan budaya Jawi pesisir punika.
Karya sasra pesantren sanesipun ingkang ugi kathah
ingkang remen ingih punika karya-karya kados (1) puji-pujian, (2)
hagiography, (3) al-barzanji, (4) wirid, (5) hizb, lan ugi (6) wifiq.
Hizb, wirid, lan wifiq menika satungaling karya sastra pesantren ingkang
suraosipun ngemu bab mantra-mantra lan jampi-jampi kagem pengasihan lan
kadigdayan kawula muda santri. Kadosto naskah-naskah bab masalah
rohaniah (spiritual dimension of manuscript) ing lingkungan tradisi
pesantren tradition, umpami (1) hizb nashar, (2) Hizb Nawawi, (3) Hiz
Bahri, (4) Hizb Bukhari, lan (5)Hizb Ghazali.
Setunggaling Syi’ir ingkang kathah dipun waos ingih punika Syi’ir
Erang-erang Sekar Panjang anggitanipun Kyai Siraj Payaman Magelang.
Syi’ir aksara pegon menika isinipun mertelakaken bab kahananipun gesang
lan siksa wonten akhirat. Umpaminipun Bab Rupane Ula (the existence of
snake), Bab Melicete Kulit, Bab Mangsane Tunggeng, Bab Siksa Kubur, Bab
Kamulyan ing Suwarga, lan, Bab Siksane Neraka. Sdaya bab sawau dipun
terangaken anthi gamblang dipun awiti saking babagan siksa kubur gantos
kahanan ngagesang wonten ing suwarga lan siksa neraka.
1. Sastra Syi’ir
Salah satu jenis karya Sastra Jawa Pesisir yang berkembang di lingkungan
pondok pesantren adalah lahirnya apa yang disebut sebagai sastra
pesantren. Yang dimaksud dengan istilah sastra pesantren adalah kumpulan
karya sastra kitab (sastra keagamaan) karya sastra lisan, dan sastra
syi’ir yang lahir dan berkembang di lingkungan pesantren, baik masalah
menyangkut ajaran yang bersifat dogmatis-ritual maupun ajaran yang
bersifat rasional-spiritual. Di antara ciri-ciri sastra pesantren itu
adalah (1) sastra pesantren biasanya berbahasa Arab dan bertuliskan
Arab, (2) adakalanya sastra pesantren itu berbahasa Jawa baru dengan
tulisan Arab-pegon, (3) lahir dan berkembang lebih kurang awal abad
ke-19-an, dan berkembang pesat sekitar abad ke-19 hingga abad ke 20-an,
(4) sastra pesantren berupa tradisi lisan dan tradisi tulisan, yang
berisi ajaran-ajaran moral, fiqh, tauhid, tasawuf, teologi, dan
karya-karya syi’ir, nasyid dan lain-lain, (5) biasanya sastra pesantren
dibaca dalam halaqah ilmiah, upacara ritual tertentu dan kadang
dipertunjukkan sebagai performing-art, dan (6) sastra pesantren juga
sedikit banyak terpengaruh sastra Timur Tengah, sastra Arab atau sastra
Parsi ( lihat, Basuki, 1989; Abdullah, 1996; Thohir, 1997).
Salah satu aspek sastra pesantren adalah sastra keagamaan yang berisi
doa-doa. Doa-doa yang sering dibaca di lingkungan pesantren itu adalah
karya sastra yang termasuk kategori wirid, hizb, dan wifik. Doa-doa itu
biasanya berupa doa ma’tsurat, yaitu doa-doa yang diajarkan Nabi SAW
lewat berbagai hadis sahih. Jenis karya sastra ini dalam lingkungan
akademis jarang diteliti orang. Hal ini karena karya sastra pesantren
yang satu ini dianggap bagian dari rahasia “perdukunan” di lingkungan
kyai dan pesantren tradisional pada umumnya.
Di antara karya sastra pesantren yang berupa karya sastra tulisan dan
lisan adalah naskah Manakib Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani, Naskah
Al-Barzanji, Nadlaman, Nashar, Qasidah Burdah, Syi’ir, wirid, hizb,
wifik dan rajah. Teks-teks sastra semacam itu adakalanya dibaca pada
acara-acara ritual keagamaan, seperti upacara kelahiran, khitanan, dan
hajatan lainnya. Dalam acara-acara ritual itu teks-teks karya sastra itu
sering dibaca dalam pertunjukan yang diiringi musik rebana sebagai
performing-art. Sebagai sarana komunikasi antara manusia dan Tuhannya,
bacaan wirid dan doa-doa itu sekaligus berfungsi sebagai sarana ibadah
dan ikhtiar mempertahankan diri dalam masyarakat agar tetap hidup
(survive) dan menjaga, melestarikan eksistensinya menghadapi berbagai
tantangan zaman. Kalau wirid dan hizb berisi tentang mantera dan doa,
maka sastra syi’ir pesantren berupa puisi Jawa yang berisi ajaran moral,
tuntunan ibadah, nasehat-nasehat untuk berumah tangga, dan kabar
tentang hari akhirat.
Meskipun penelitian sastra Jawa sudah banyak dilakukan orang, namun
tidak demikian halnya dengan karya sastra jenis Syi’ir. Selama ini jenis
sastra Syi’ir kurang diminati para peneliti. Hal ini terbukti dari
berbagai penelitian sastra Jawa yang dilakukan para ahli seperti
Poerbatjaraka dan Tardjan Hadidjaja (1952), Padmosoekotjo (1960), Ras
(1985), Zoetmulder (1983), Subalidinata (1996), Nielsmulder (1986),
tidak membicarakan tentang sastra syi’ir. Anehnya lagi, dalam berbagai
katalogus naskah Jawa seperti Katalogus Pigeaud (1973), Katalog Girardet
(1983), dan Katalog Behrend (1993) tidak ditemukan catatan tentang
syi’ir (Jawa : Singir). Penelitian akademis tentrang syi’ir pun masih
bisa dihitung dengan jari tangan. Karya-karya itu misalnya skripsi S-1
(Muayyanah, 1996; Saifuddin, 1997), dan sebuah tesis S-2 (Muzakka,
1999).
Hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Museum Pusat Jakarta tentang
karya sastra syi’ir hanya meng-cover empat buah syi’ir (Soewignjo dan
Wirawangsa, 1920 :318). Meskipun demikian, sampai saat ini tampaknya
belum ada usaha penelitian lanjutan yang merekan sejumlah naskah syi’ir
di kalangan pesantren. Kurang tahu persis, mengapa penelitian tentang
syi’ir masih rendah peminatnya. Barangkali karena kurangnya sosialisasi
dan publikasi karya syi’ir secara umum. Untuk menjawab persoalan ini,
maka sangat dirasa penting penyunyingan dan penerbitan naskah syi’ir
untuk konsumsi masyarakat akademis dan masyarakat pada umumnya.
Alasan yang kuat perlunya penelitian terhadap syi’ir ini adalah (1)
naskah-naskah syi’ir belum banyak diungkap para filolog, hingga banyak
yang terlantar, (2) dari aspek isinya, naskah syi’ir ini banyak berisi
nasehat, pendidikan dan ajaran moral sehingga akan banyak manfaatnya
untuk masyarakat modern sekarang ini yang mulai mengalami dekadensi
moral dengan maraknya sikap permisif dan anarkhis, dan (3) untuk
menyelamatkan aset pesantren yang bernilai tinggi berupa ajaran akhlak
dan ajaran ruhaniyah (spiritual) yang tertuang dalam bentuk syi’ir.
Sebagaimana fungsi karya sastra yang lain, maka sastra syi’ir juga
memiliki fungsi yang cukup signifikan, yaitu sebagai sarana pendidikan
moral yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Di samping itu, manfaat
syi’ir dalam masyarakat santri adalah sebagai hiburan yang mengasikkan,
sambil tetap menjaga zikir kepada Allah SWT. Dengan kata lain, menurut
Horatius sebuah karya sastra yang baik akan mengandung nilai dulce et
utile, maka syi’ir memilii nilai bermanfaat dan sekaligus menyenangkan.
Hal ini mengisaratkan bahwa karya sastra haruslah dipahami dengan
konteks sosial budayanya sebagai fungsi estetik sastra yang tidak lepas
dari fungsi sosialnya (Teeuw, 1984: 183). Dengan demikian, sastra syi’ir
pesantren sebagaimana yang berkembang di dalam komunitasnya, merupakan
karya estetis yang berfungsi sosial kuat sebagai wahana komunikasi dan
bersosialisasi tentang nilai-nilai Islam.
Di samping naskah-naskah berisi doa seperti hizb, wirid, dan wifik,
dalam sastra pesantren berkembang juga karya-karya sastra lokal yang
berupa syi’ir. Dalam tradisi sastra Jawa syi’ir termasuk genre sastra
yang tidak banyak menarik para peneliti, baik peneliti sastra maupun
para filolog, padahal dari segi kuantitasnya karya syi’ir ini cukup
besar jumlahnya. Misalnya Syi’ir Erang-erang Skar Panjang, Syi’ir Laki
Rabi, Syi’ir Siti Fatimah, Syi’ir Paras Rasul, Syi’ir Dagang, Syi’ir
Tajwij, Syi’ir Ngudi Susila dan lain-lain.
2. Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang
Di antara naskah Syi’ir yang sering dibaca di kalangan santri adalah
Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang. Syi’ir Erang-erang ini ditulis oleh
Kyai Muhammad Siraj dari Payaman Magelang ditulis tahun 1822 M. Naskah
Syi’ir Erang-erang sebagaimana syi’ir-syi’ir lainya ditulis dalam bahasa
Jawa, dengan tulisan huruf Arab-Jawa (pegon) dengan tulisan dalam
ukuran kecil. Naskah Syi’ir yang terdiri atas 24 halaman ini berbentuk
puisi yang terbagi ke dalam beberapa subjudul (bab). Bab pertama
berjudul Bab Rupane Ula (Bab Wujudnya Ular), kedua Bab Mlicete Kulit
(Bab Terkelupasnya Kulit), ketiga Bab Mangsane Tunggeng (Bab Musimnya
Kala Jengking), dan seterusnya.
Secara garis besar Naskah ini berisi nasehat keagamaan, terutama nasehat
untuk menjaga akidah Islamiyah, menjalankan amal saleh, janji Allah di
bagi ahli ibadah, dan tentang eksistensi hari akhir, khususnya siksaan
di neraka dan pahala di surga. Di sinilah Kyai Siraj ingin menjadikan
agama benar-benar sebagai nasihat bagi manusia, sebagaimana sabda nabi
SAW, “ad-dinu na-sihah” (Agama, Islam, itu sesungguhnya sebuah nasihat
yang mulia). Dengan kata lain, naskah Syi’ir Erang-erang ini
menceritakan kehidupan sesudah mati, alam akhirat, baik siksaan di alam
kubur, siksaan di neraka, bahagianya tinggal di surga, janji Allah bagi
yang melanggar hukum-hukumnya, sampai kisah pisahnya harta kekayaan
dengan si pemiliknya. Kisah ini diceritakan demikian detil, sehingga
setiap orang yang membaca teks ini seakan-akan terbawa ke alam akhirat.
Alam keabadian yang memberikan tempat bagi manusia untuk memetik buah
perbuatannya waktu mengarungi hidup di dunia. Orang-orang yang beramal
baik akan mendapatkan balasan surga jannatun na’im, sedang orang yang
ingkar kepada kebenaran, akan mendapat tempat pembalasan di neraka.
Penelitian ini berusaha menjawab masalah-masalah sebagai berikut :
2.1 Secara kualitas maupun kuantitas karya sastra Jawa pesantren,
seperti jenis Syi’ir sesungguhnya cukup signifikan perkembangannya.
Namun, mengapa karya sastra dalam bentuk syi’ir, khususnya naskah syi’ir
Erang-erang Sekar Panjang belum diteliti secara akademis? Bukankah
naskah-naskah seperti itu justru menarik untuk disunting teksnya?
2.2 Bagaimana sesungguhnya doktrin eskatologis (kehidupan akhirat) yang
terdapat dalam teks Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang. Artinya, bagaimana
konsep kehidupan sesudah mati menurut Syi’ir tersebut? Adakah relevansi
nilai-nilai eskatologis tersebut dengan kehidupan masa kini ?
2.3 Bagaimana sebetulnya secara lengkap isi teks syi’ir Erang-erang
Sekar Panjang? Apa sebetulnya isi cerita eskatologis yang terdapat dalam
naskah Erang-erang Sekar Panjang itu?
2.4 Mengapa aspek-aspek eskatologis dalam teks Syi’ir Erang-erang ini
sangat menonjol ? Apakah maksud yang implisit dari pesan-pesan
eskatologi dalam teks syi’ir tersebut?
Alasan yang kuat perlunya penelitian terhadap syi’ir ini adalah (1)
naskah-naskah syi’ir belum banyak diungkap para filolog, hingga banyak
yang terlantar, (2) dari aspek isinya, baskah syi’ir ini banyak berisi
nasehat, pendidikan dan ajaran moral sehingga akan banyak manfaatnya
untuk masyarakat modern sekarang ini yang mulai mengalami dekadensi
moral dengan maraknya sikap permisif dan anarkhis, dan (3) untuk
menyelamatkan aset pesantren yang bernilai tinggi berupa ajaran akhlak
dan ajaran ruhaniyah (spiritual) yang tertuang dalam bentuk syi’ir.
Sebagaimana fungsi karya sastra yang lain, maka sastra syi’ir juga
memiliki fungsi yang cukup signifikan, yaitu sebagai sarana pendidikan
moral yang sangat bermanfaat bagi pembaca. Di samping itu, manfaat
syi’ir dalam masyarakat santri adalah sebagai hiburan yang mengasikkan,
sambil tetap menjaga zikir kepada Allah SWT. Dengan kata lain, menurut
Horatius sebuah karya sastra yang baik akan mengandung nilai dulce et
utile, maka syi’ir memilii nilai bermanfaat dan sekaligus menyenangkan.
Hal ini mengisaratkan bahwa karya sastra haruslah dipahami dengan
konteks sosial budayanya sebagai fungsi estetik sastra yang tidak lepas
dari fungsi sosialnya (Teeuw, 1984: 183). Dengan demikian, sastra syi’ir
pesantren sebagaimana yang berkembang di dalam komunitasnya, merupakan
karya estetis yang berfungsi sosial kuat sebagai wahana komunikasi dan
bersosialisasi tentang nilai-nilai Islam.
Untuk menunjang masukan informasi data, maka penelitian ini dilakukan
dengan menggunakan metode; (1) metode filologi sebagai metode
penggarapan teks yang akan melahirkan hasil suntingan teks, (2) metode
Tinjauan Pustaka, untuk analisis isi teks yang mengungkap makna
eskatologis dalam syi’ir Erang-erang, dan (3) metode penelitian
lapangan, untuk mengetahui praktek pembacaan naskah.
Metode Studi Pustaka dipakai untuk menganalisis isi teks Erang-erang
Sekar Panjang, terutama yang berisi aspek eskatologisnya. Pembahasan
tentang aspek eskatologi akan diperkaya dengan berbagai referensi, yang
mengacu kepada filsafat eskatologi dan doktrin eskatologis dalam agama
Islam. Hal ini dirasa penting untuk menambah cakrawala baru dalam telaah
isi teksnya.
Untuk mendapatkan gambaran model pembacaan teks, maka penting dilakukan
studi lapangan, mengadakan observasi dan pengamatan langsung tentang
praktek pembacaan syi’ir. Metode yang digunakan adalah metode raport
research. Yaitu peneliti berusaha terlibat langsung dalam kehidupan
sehari-hari masyarakat pembacanya dan meneliti bagaimana proses estetika
pembacaan dalam masyarakat pedukungnya berlangsung. Tinjauan lapangan
dilakukan pondok pesantren di Kaliwungu Kendal dan di Pondok Pesantren
Payaman Kabupaten Magelang.
3. Aspek Eskatologi Syi’ir Erang-erang Sekar Panjang
Eskatology adalah alam kehidupan manusia sesudah mati, atau dengan
bahasa agama disebut kehidupan akhirat. Kematian adalah awal dari
kehidupan yang sesunguhnya. Jika kalangan filsuf klasik seperti Karl
Marx (1818-1883), Sigmund Freud (1856-1939), Jean-Paul Sartre
(1905-1980) memaknai kematian hanya dengan pendekatan
rasionalitas-ilmiah, maka mereka akan ‘gagal’ memaknai dan memberkan
definisi kematian yang sesunguhnya. Apalagi para filsuf itu hanya
berhenti pada kesimpulan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya
(Sibawaihi, 2004:77).
Karena itu bagi kaum posititifistik itu tidak ada konsep kehidupan
akhirat, atau hidup sesudah mati. Berbeda dengan kaum yang beriman,
karena kehidupan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
hari akhir atau hari kiyamat (lihat QS Al-Baqarah 2 : 8), diyakini
benar-benar ada. Bahkan diyakni sebagai kehidupan yang sebenarnya bagi
manusia. Itulah sebabnya Al-Ghazali mengatakan bahwa setelah kematian
yang keda (tercerabutnya nyawa dari badan), akan ada lagi kehidupan yang
ketiga, yang merupakan kehidupan abadi, yaitu kehidupan akhirat.
Kematian yang kedua bagi Al-Ghazali adalah merupakan “Kiamat Kecil”
(al-Qiyamah As-Sughra), sebagaimana hadis Nabi SAW, “Siapa yang
meninggal dunia, maka kiamatnya telah bangkit” (Al-Ghazali dalam
Sibawaihi, 2004: 79).
Karena kehidupan di dunia ini hanyalah kehidupan semu atau nisbi.
Kehidupan akhirat itulah tempat disampaikan pembalasan bagi amal
perbuatan manusia waktu di dunia. Jika amal perbuatannya baik (shaleh),
maka mereka akan dibalas dengan kehidupan lebih baik di akhirat, yaitu
surga sebagai pemabalasannya. Sebaliknya jika manusia beramal jahat
(sayyiah), maka balasan mereka di akhirat adalah tempat pejara, yaitu
neraka jahannam. Itulah sebabnya hari akhirat itu juga disebut hari
pembalasan. Maka “Barangsiapa yang beramal kebaikan sebesar zarrah pun,
niscaya dia akan melihat balasannya, dan barang siapa mengerjakan amal
kejahatan sebesar zarrah pun maka niscaya mereka akan melihat balasannya
pula (QS. Zalzalah 99 : 7-8).
Dalam teologi Islam klasik diajarkan bahwa sesungguhnya siksa kubur
sungguh-sunguh adanya. Sebagai contoh adanya siksa di alam kubur (alam
barzah) yang akan dirasakan manusia oleh orang-orang yang waktu di dunia
banyak berbuat dosa. Mereka akan ditanya oleh malaikat penjaga kubur,
yaitu Mungkar dan Nakir. Hal ini jga tersebut dalam naskah Durrat
Al-Faraid karya terjemahan Ar-Raniri :
Yakni kita I’tiqadkan bahwasanya ditanyai malaikat yang bernama Mungkar
dan Nakir itu sebenarnya seperti firman Allah ta’ala Yu£abitu All?hu
al-la??na ?man? bil qauli al-£?biti.Yakni ditetapkan Allah maka mereka
itu tetaplah percaya akan Allah ta’ala dengan kata yang tetap bahwa ayat
ini diturunkan Allah ta’ala pada menyatakan siksa kubur. Apabila
ditanyakan segala yang mati dalam kuburnya, maka datang dua orang
malaikat hitam warna keduanya dan biru matanya bernama Mungkar dan
Nakir. Maka ditanyai oleh keduanya mayit itu, man rabbuka maa dinnnuka
wa man Nabiyyuka. Artinnya, siapa Tuhanmu, dan apa agamamu, dan siapa
Nabimu. Maka dijawab mayit itu, Allah rabb, wa islam din Nabi
Muhammad alaihissalam nabi. Inilah kata yang tetap yang tersebut dalam
kitab itu. Da sabda Nabi ‘alaihissal?m, alqabru ruhatan min riya«il
jannati au hafratun an-nirani. Yakni kubur itu suatu kebun daripada
kebun surga atau liyang daripada liyang neraka. Adapun soal siksanya itu
adalah ia pada segala yang mati karam dalam air atau dimakan binatang
buas dalam pertanya yang disalakannya. Dan jikalau tiada kita ketahui
segala ‘ajaib perintahnya dan indah-indah hukumnya (naskah A halaman
61).
Dalam kitab karya Syeikh
Nurudin Ar-Raniri (lihat, disertasi Tudjimah, 1961) dijelaskan bahwa
qalb, fuad, dan ruh sesungguhnya muaranya adalah ruh. Jadi ruh yang
merupakan celupan dari Allah SWT (sibghoh Allah) itu sebenarnya yang
dapat diajak bersilaturahmi dengan baik. Silaturahmi ruhaniah itu dapat
terjadi pada orang yang masih hidup maupun orang yang telah mati.
Dalam diri manusia sesungguhnya tergabung dua alam sekaligus, yaitu alam
nasut dan alam malakut. Untuk menyederhanakan, alam nasut adalah alam
material kita, yaitu alam yang bisa kita rasakan dan alam yang bisa kita
persepsi dengan alat-alat indera kita, seperti jasad kita, anggota
badan kita. Sedang ruh kita termasuk ke dalam alam malakut. Semakin
tertarik manusia dengan alam nasut, maka makin sibuk dia dengan materi
duniawi. Makin tertarik dia dengan alam material, makin lepas dia dengan
alam malakut. Maka orang-orang yang sedang melakukan silaturahmi,
sedang ziarah, tubuh-tubuh mereka berada di alam nasut, tetapi ruhnya
berada di alam malakut. Artinya, kalau kita mengadakan silaturahmi,
halal bihalal, ziarah, atau syawalan, ruh kita akan bersilaturahmi
dengan ruh kaum muslim lainnya.
Dalam prakteknya, bisa jadi seseorang bersilaturahmi secara nyata di
alam nasut, tetapi di alam malakut ruhnya tidak bersilaturahmi.
Sebaliknya, boleh jadi ada orang yang tidak pernah berjumpa secara
fisikal, tetapi di antara mereka ada jalinan silaturahmi yang sangat
kental seperti sudah diperkenalkan jauh sebelumnya. Contohnya, Kalau
kita mengadakan acara halal bihalal, kemudian kita bersalam-salaman.
Yang satu mengatakan, “Mohon maaf lahir dan batin”. Kemudian yang lain
menjawab, “Sama-sama mohon maaf lahir dan batin”. Boleh jadi di dalam
hati masing-masing masih tersimpan rasa dendam, dan tidak mau memaafkan
orang itu. Sehingga seringkali orang bersilaturahim di alam nasut, tapi
di alam malakut ruhnya tidak ikut bersilaturahim.
Di alam malakut ada dua kafilah ruhaniah. Satu kafilah ruhani yang
sedang bergerak menuju ke Allah SWT, dan yang satu lagi kafilah yang
menjauhi Allah SWT. Pendeknya, satu kafilah yang sedang meninggalkan
tanah liat menuju Allah SWT, dan satu lagi kafilah ruhani yang
meninggalkan cahaya Allah SWT menuju kegelapan yang gelap gulita. Nah,
essensi syawalan adalah perjalanan kafilah ruhaniah yang sedang bergerak
bersilaturahmi unsure tanah liat melewati ruh-ruh orang suci menuju
kepada keridhaan Allah SWT.
Al-kisah ada sebuah riwayat yang dikutip Imam Bukhari, bahwa pernah ada
beberapa orang sahabat Nabi yang mendatangani suatu tempat, tetapi
mereka tidak menduga bahwa tempat itu adalah kuburan. Kemudian mereka
hamparkan jubah untuk tempat istirahat di tempat itu. Tiba-tiba salah
seorang di antara mereka mendengar ada suara orang sedang membaca surah
Al-Kahfi (kalau tidak salah). Dia terkejut, dan ia mendengarkan bacaan
itu sampai selesai. Kemudian dia sampaikan peristiwa itu kepada
Rasulullah SAW. Lalu kata Rasulullah SAW, “Dia sedang membaca sesuatu
yang bisa mencegahnya dari azab kubur”. Nabi tidak mengatakan bahwa hal
itu adalah tahayyul, bid’ah atau musyrik. Justru Nabi malah
membenarkannya. Hal ini merupakan legitimasi dari Nabi SAW, bahwa ruh
orang-orang suci itu masih tetap beribadah bahkan di alam barzah
sekalipun. Hubungkanlah silaturahmi kita dengan kafilah ruhani
orang-orang suci supaya kita diperkuat, supaya mereka membantu kita
dengan doa-doa mustajab mereka.
Nah, ketika kita berziarah ke makam para ulama dan kyai yang suci, kita
harus bayangkan bahwa di balik kubur itu ada rombongan ruh-ruh orang
suci. Kita hanya bisa membayangkan, karena kita di alam nasut. Bayangkan
bahwa di alam malakut itu ada rombongan ruhani orang-orang suci,
termasuk yang masih hidup. Semua bergabung ke dalam satu kafilah. Nabi
SAW pernah bersabda, “Para ruh di alam malakut itu seperti tentara yang
dipertemukan. Kalau mereka saling mengenal, maka mereka saling
berpelukan. Tetapi kalau mereka tidak saling mengenal, mereka saling
bertengkar di alam ruh itu” (lihat, Jalaluddin Rakhmat dalam Renungan
Sufistik, 1994: 87).
Oleh karena itu, agar ruh kita dapat bergabung dengan ruh-ruh orang yang
suci, maka ucapkanlah salam kepada mereka secara khusus, dan salamnya
langsung tidak dititipkan. Misalnya, Assal?mu’alaikum y? ahlil kub?r.
Karena itu, ketika salat kita diperintahkan agar kita ucapkan salam
kepada pimpinan tertinggi kafilah itu, yaitu Nabi Muhammad SAW,
Assalamu’alaika ayyuhannabiyyu wa rahmatullhi wa baraktuh. Maka kita
tidak mengucapkan salam kepada Nabi itu dengan assalamu’alaihi.
Dalam teks syi’ir Erang-erang Sekar Panjang, balasan perbuatan manusia
itu digambarkan dengan ancaman hukuman berat di neraka bagi yang
mengingkari perintahn Tuhan, dan balasan indah di surga bagi manusia
yang beramal kebaktian waktu di dunia. Hal itu tertulis dalam bait Bab
Rupane Ula untuk memberikan hukuman dan siksaan bagi orang-orang kafir
yang tak beriman.
“Gedene ula iku, padha karo glugu aren
Nggane ngerah ula iku, tanpa nganggo leren-leren
Anane ula iku, duwe rupa amedeni
Endhas buthak nganggo jamang, pating selingkap anggembili
Anane gembiline kanggo wadahe upase
Upase kanggo nyembur, kanggo nambahi siksane
Sak wise dha disembur, banjur abuh nggegilani
Sak wuse padha abuh, mecah nanah njejelihi
Gusti Allah amaringi udan lenga luwih panas
Panase lenga iku, ngungkuli katimbang upas
Sak wise kena kulit mangka nuli enggal melicet,
Melicete kulit iku seka sirah tekan kencet.
(Erang-erang halaman 1-2).
Sebaliknya, bagi ahli ibadah dan ahli kebaikan waktu di dunia, mereka
akan mendapat balasan di hari akhirat bdengan tempat balasan yang indah
di surga. Digambarkan bdalam Syi’ir Erang-erang bahwa kehidupan di surga
penuh dengan kesenangan dan kenikmatan. Misalnya mereka dijamu dengan
berbagai makanan enak dan bidadari yang cantik-cantik. Digambarkan dalam
Bab Besane Widadari,
Besane widadari kanggo seneng para priya
Senenge para priya kanggo liru susah dunya
Besane sang widadari edine tan kira-kira
Supayane bisa banget bungahe sang para priya
(Erang-erang halaman 10).
Perhatikan ketipan teks yang menggambarkan kebahagiaan kehidupan surga di bawah ini : Bab Mulyane Suwarga
Lamun sira bisa mekak, ing karepe hawanira
Mangka temen sira iku manggon taman suwarga
Rasane ana suwarga luwih banget nggone mulya
Sandhang pangan ora kurang, ora mati ora nelangsa
Olehe manggon suwarga tanpa nganggo wewangenan
Miturut dhawuhe Allah kang kesebut ana Quran
Suwarga ora ana sak liyane kasenengan
Saben wektu ora ana sak liyane pengantenan
Sak wuse pengantenan, nuli padha pepelesiran
Nggone pelesir sak karepe, lamun nunggang tanpa sedwa
Gusti Allah nggone cawis kanggo seneng kawulane
Aja ngasi kang diseja, endadekake nyang gelane
Terjemahan:
Bab Kebahagiaan di Surga
Hendaklah kalian semua perhatikan waktu mencari kebahagiaan
Untuk meraih kesenangan setelah akhir zaman
Tidak akan kalian itu bisa senang dan bisa bahagia
Jika kalian tidak mau mengikuti perintah Tuhan yang Kuasa
Jika saudara sekalian dapat menahan atas semua hawa nafsumu
Maka sungguh kalian akan dapat tinggal di taman surga
Rasanya hidup di surga sungguh sangat membahagiakanmu
Pakaian dan makanan tidak pernah kurang, tidak mati dan tidak sengsara
Maka tingal di surga itu tanpa pakai perhitungan
Menurut perintah Allah yang disebutkan dalam kitab Al-Quran
Di surga tiada kesedihan, selain hanya kesenangan
Setiap waktu tiada lain, selain menjadi temanten baru
Setelah menjadi penganten baru, maka kemudian mereka bertamasya
Mereka akan bertamsya sekehendaknya, mengggunakan endaraan tanpa sewa
Gusti Allah memang menyediakan semuanya untuk kebahagiaan hamba-Nya
Jangan sampai yang dituju menjadikan penyesalan di kelak kemudian hari